December 3, 2023

Hasil Autopsi 2 Korban Kanjuruhan Sudah Keluar. Perhimpunan Dokter Forensik (PDFI) Jawa Timur mengumumkan hasil autopsi dan pemeriksaan dua jenazah korban Tragedi Kanjuruhan tak terdapat kandungan zat gas air mata. Namun, PDFI menemukan penyebab utama kematian adalah patah tulang dan pendarahan berat.

Hal itu diungkapkan Ketua PDFI Jatim, dr Nabil Bahasuan. Ia mengaku timnya sudah menyelesaikan rangkaian proses autopsi dan pemeriksaan patologi forensik kepada dua jenazah.

“Kami tim PDFI Jatim Alhamdulillah sudah menyelesaikan semua rangkaian pemeriksaan luar, pemeriksaan tambahan, dalam kasus Tragedi Kanjuruhan terhadap dua korban,” kata Nabil ditemui di Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, Rabu (30/11).

Dua jenazah korban Tragedi Kanjuruhan yang diautopsi itu adalah kakak beradik NDR (16) dan NDB (13). Mereka merupakan anak perempuan dari DAY (41), seorang Aremania asal Bululawang, Malang.

“Jadi untuk hasil dari NDR (16). Itu didapatkan kekerasan benda tumpul. Adanya patah tulang iga, 2, 3, 4, 5. Dan di sana ditemukan perdarahan yang cukup banyak. Sehingga itu membuat sebab kematiannya,” ujarnya.

Hal serupa juga ditemukan di jenazah kedua, yang tak lain adalah adik kandung NDR sendiri. Dia juga mengalami patah tulang iga.

“Kemudian, adiknya NDB (13). Juga sama tapi ada di tulang dadanya. Patahnya itu. Juga di sebagian tulang iga, sebalah kanan,” ucapnya.

Nabil mengaku tak bisa menyebutkan apa penyebab tulang-tulang korban itu patah. Ia hanya bisa memastikan penyebab kematian korban adalah karena kekerasan benda tumpul.

“Di kedokteran forensik kita tidak bisa mengatakan itu karena apa. Tapi karena kekerasan benda tumpul. Untuk pastinya, tentu di penyidikan yang tahu,” ucap dia.

Selanjutnya, di dalam tubuh korban ternyata tak ditemukan adanya kandungan zat gas air mata atau zat beracun lainnya. Hal itu, kata Nabil, merupakan pemeriksaan toksikologi yang dilakukan ahli dari Badan Riset dan Informasi Nasional (BRIN).

“Dari hasil pengumpulan sampel yang ada pada kedua korban. Kami sudah mengumpulkan kepada BRIN dan didapatkan tidak terdeteksi adanya gas air mata tersebut,” kata dia.

“Untuk lebih jelasnya, nanti di pengadilan bisa didatangkan ahli dari BRIN tersebut yang memeriksa hasil sampel toksikologi kita,” ucapnya.

Lebih lanjut, Nabil mengatakan, saat dilakukan autopsi dan ekshumasi, sebagian organ tubuh jenazah juga mulai membusuk. Meski demikian ia meyakini pemeriksaan in tetaplah akurat.

“Jadi kedua korban ini sudah mengalami proses pembusukan lanjut. Jadi bisa dibayangkan kita melaksanakan autopsi itu, sudah dalam pembusukan lanjut,” katanya.

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *