December 3, 2023

Gelaran Agung Jaranan Malang Raya bisa menjadi titik balik untuk kembali mengenalkan kesenian budaya khas Malang kepada masyarakat. Bertempat di Alun-Alun Tugu Malang, setidaknya ada hampir 2000 pelaku kesenian budaya menampilkan segala bentuk genre dari jaranan tersebut.

Ketua sekaligus pelaksana Jaranan Malang Raya, Ratmoko mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus merayakan SK terbitnya Jaranan Malang Raya dari Kemenkumham RI.

“Ada 103 grup yang terdaftar. Jadi ini memfasilitasi silaturahmi bagi para pelaku kesenian jaranan di Malang Raya,” ujar Ratmoko, Minggu (11/12/2022).

Kegiatan yang digelar sejak pukul 08.00 WIB hingga 17.00 WIB ini mempertemukan dari segala genre kesenian budaya jaranan. Mulai dari Reog Ponorogo hingga yang menjadi khas Malang adalah Jaranan Dor Kidalan.

Ratmoko mengungkapkan bahwa kegiatan ini bakal digelar secara rutin setiap tahunnya. Tahun depan, rencananya bakal diadakan di Kota Batu.

“Kenapa Malang Raya, karena kita ingin mempersatukan ketiga wilayah Malang ini melalui seni budaya,” ungkapnya.

Menilik Jaran Dor Kidalan yang menjadi ciri khas Malang

Jaran Dor Kidalan ini menjadi ciri khas Malang sejak zaman kerajaan Singhasari. Jaranan sendiri berarti “Jaran” atau kuda dan imbuhan -an bermakna tiruan atau mainan.

Seni tradisional ini memang tumbuh besar di bekas daerah kekuasaan Singhasari, seperti Kediri, Blitar, Nganjuk dan Tulungagung. Ada yang bernama Jaran Pegon, Jaran Sentherewe dan Jaran Dor itu sendiri.

Jaran Dor Kidalan sendiri berasal dari Jaran Dor Desa Kidal yang berkaitan dengan kerajaan Singhasari. Tepatnya Desa Kidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.

Desa Kidal yang ada sejak tahun 1200-an merupakan saksi lahir dan berkembangnya kesenian khas Malang tersebut.

Jaranan atau kuda konon adalah kendaraan Raja Anusapati saat sedang singgah di Desa Kidal. Kemudian jaranan dikembangkan menjadi kesenian rakyat dengan tujuan mendapat banyak massa.

“Jadi berawal pada tahun sekitar 1200-an itu. Dulunya menjadi tempat istirahat (Raja Anusapati) di Desa Kidal dan munculah jaranan,” katanya.

Tak ada yang tahu pasti memang pertama kali Jaran Dor Kidalan itu muncul. Namun dari informasi literasi tetua Desa Kidal bahwa Jaran Dor Kidalan sudah ada sejak tahun 1938.

Ratmoko menjelaskan, perbedaan Jaran Dor Kidalan dengan yang lain, yakni dari apa yang dibawa. Jaran Dor Kidalan sendiri tak membawa pecut seperti kebanyakan jaranan di wilayah lain di luar Malang.

Jaran Dor Kidalan dalam kitab Lontara menggambarkan serangan prajurit Kediri terhadap Singhasari yang terjadi di Desa Wagir. Tarian Jaran Dor Kidalan inilah menggambarkan perilaku peperangan kala itu.

“Tidak bawa pecut. Jadi gerakannya sederhana dan gerakan dasarnya adalah sikap ksatria militer. Kalau perang kan bawa pedang, di asalnya Desa Kidal itu kesenian ini menggunakan rotan sebagai pengganti pedang,” jelasnya.

Diketahui, setelah sukses meluas dan menjadi kesenian budaya khas Malang, Jaran Dor Kidalan ini menjadi bagian dari suroan, upacara bersih desa dan sedekah bumi.

sumber: times

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *